Antoniclianto.com – Pagi itu saya sedang bermain bola bersama anak saya di lapangan RPTRA. Tidak ada yang istimewa, hanya menghabiskan waktu bersama anak sambil bermain dan menikmati suasana pagi.
Beberapa saat kemudian, datang rombongan anak-anak yang tampaknya akan mengikuti latihan sepak bola. Mereka masuk ke lapangan dan mulai mempersiapkan kegiatan, padahal saat itu lapangan masih sedang digunakan oleh saya dan anak saya.
Yang membuat saya sedikit kecewa bukan karena ada anak-anak lain yang ingin menggunakan lapangan. Lapangan memang fasilitas bersama dan tentu semua orang memiliki hak untuk menggunakannya. Masalahnya adalah cara mereka masuk dan mengambil alih ruang yang masih digunakan orang lain.
Di antara rombongan tersebut juga ada orang tua yang mengantar. Namun, tidak ada teguran atau sekadar ucapan kepada anak-anak bahwa masih ada orang yang sedang bermain.
Padahal sebenarnya sederhana saja. Cukup mengatakan, “Tunggu sebentar, masih ada yang bermain.” Atau menyampaikan dengan sopan, “Boleh kami bersiap di sini? Nanti kalau sudah selesai kami pakai lapangannya.”
Kalimat sesederhana itu sebenarnya bukan hanya soal sopan santun. Itu adalah pelajaran kecil tentang bagaimana menghargai orang lain.
Anak Belajar dari Apa yang Dilihat
Sebagai orang tua, kita sering sibuk mengajarkan anak berbagai macam hal. Kita ingin anak pintar, berprestasi, berani, dan memiliki kemampuan yang baik.
Namun ada satu hal yang terkadang terlupakan: mengajarkan anak untuk menghargai orang lain.
Anak tidak hanya belajar dari nasihat. Mereka juga belajar dari perilaku orang dewasa di sekitarnya.
Ketika anak melihat orang tuanya terbiasa meminta izin, menghargai giliran, mengucapkan terima kasih, meminta maaf ketika salah, dan tidak mengambil hak orang lain, anak akan memahami bahwa itulah cara memperlakukan orang lain.
Sebaliknya, jika anak terbiasa melihat bahwa kepentingan kelompoknya boleh didahulukan meskipun ada orang lain yang sedang menggunakan fasilitas tersebut, lama-kelamaan perilaku itu bisa dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
Saya tidak mengatakan anak-anak tersebut nakal. Mereka masih anak-anak dan sangat mungkin belum memahami situasinya.
Justru di sinilah peran orang tua menjadi penting.
Anak mungkin belum tahu bahwa tindakannya bisa mengganggu orang lain. Tetapi orang tua seharusnya membantu mereka memahami hal tersebut.
Fasilitas Umum Bukan Berarti Bebas Mengabaikan Orang Lain
Ada anggapan bahwa karena sebuah tempat merupakan fasilitas umum, siapa pun boleh langsung menggunakannya.
Memang benar.
Tetapi fasilitas umum juga mengajarkan kita tentang berbagi ruang.
Ketika ada lapangan yang digunakan bersama, berarti ada orang lain yang juga memiliki hak untuk menggunakannya. Karena itu, yang diperlukan bukan sekadar mengetahui hak sendiri, tetapi juga memahami hak orang lain.
Menurut saya, inilah bagian penting yang perlu ditanamkan kepada anak sejak kecil.
Menghargai orang lain bukan berarti selalu mengalah. Menghargai orang lain berarti memahami bahwa kita hidup bersama orang lain dan tidak selalu menjadi pusat perhatian.
Kadang kita harus menunggu.
Kadang kita harus meminta izin.
Kadang kita harus memberikan kesempatan kepada orang lain.
Dan kadang kita memang harus mengalah.
Hal-hal sederhana seperti itu justru menjadi dasar karakter seseorang ketika dewasa.
Saya Memilih Mengalah
Sejujurnya, saat kejadian itu berlangsung saya sempat merasa kesal.
Ada keinginan untuk menegur orang tua yang mengantar anak-anak tersebut. Saya ingin mengatakan bahwa anak perlu diajarkan sopan santun dan menghargai orang lain.
Namun saya memilih menahan diri.
Bukan karena saya menganggap kejadian tersebut benar. Saya hanya tidak ingin persoalan kecil berkembang menjadi keributan, apalagi di depan anak saya.
Akhirnya saya memilih mengajak anak pulang.
Mungkin bagi sebagian orang, keputusan tersebut terlihat seperti mengalah. Tetapi bagi saya, ada pelajaran lain yang ingin saya berikan kepada anak saya hari itu.
Saya ingin menunjukkan bahwa ketika kita merasa diperlakukan tidak sebagaimana mestinya, kita tidak selalu harus membalas dengan kemarahan.
Ada kalanya kita bisa memilih pergi.
Ada kalanya kita bisa memilih menahan emosi.
Dan ada kalanya kita bisa menyampaikan kritik dengan cara yang lebih baik.
Kritik Ini Bukan Hanya untuk Orang Tua Lain
Saya menulis ini bukan karena merasa sudah menjadi orang tua yang sempurna.
Saya juga masih belajar.
Saya juga pasti pernah melakukan kesalahan dalam mendidik anak. Karena itu, pengalaman ini lebih tepat saya jadikan sebagai pengingat untuk diri sendiri sekaligus bahan refleksi bagi kita semua.
Mengajarkan anak membaca, berhitung, berolahraga, atau berbagai keterampilan lainnya memang penting.
Tetapi mengajarkan anak mengatakan “permisi”, “maaf”, “terima kasih”, dan “boleh saya ikut?” juga tidak kalah penting.
Sebab kemampuan seseorang ketika dewasa bukan hanya ditentukan oleh seberapa pintar dirinya, tetapi juga bagaimana dia memperlakukan orang lain.
Anak yang pintar tetapi tidak mampu menghargai orang lain bisa menjadi masalah bagi lingkungan sekitarnya.
Sebaliknya, anak yang sejak kecil terbiasa menghargai orang lain akan lebih mudah diterima dan dipercaya ketika tumbuh dewasa.
Jangan Tunggu Anak Menjadi Dewasa untuk Mengajarinya
Pendidikan karakter tidak selalu membutuhkan sekolah khusus atau teori yang rumit.
Kadang pelajarannya terjadi di tempat yang sangat sederhana: di lapangan, di taman, di antrean, di kendaraan umum, atau ketika menggunakan fasilitas bersama.
Saat anak menyerobot antrean, ajarkan untuk kembali menunggu.
Saat anak mengambil barang milik orang lain, ajarkan untuk meminta izin.
Saat anak mengganggu orang lain, ajarkan untuk meminta maaf.
Saat ada orang lain yang sedang menggunakan fasilitas umum, ajarkan untuk menunggu giliran.
Hal-hal kecil tersebut mungkin terlihat sepele hari ini. Tetapi dari kebiasaan kecil itulah karakter terbentuk.
Orang tua memiliki kesempatan besar untuk membentuk kebiasaan tersebut sejak anak masih kecil.
Jangan sampai kita baru menyadari pentingnya sopan santun ketika anak sudah dewasa dan perilakunya sulit diperbaiki.
Menghargai Orang Lain Dimulai dari Hal Sederhana
Pengalaman pagi itu mungkin bagi sebagian orang bukan masalah besar. Saya pun akhirnya memilih pulang dan tidak memperpanjangnya.
Tetapi kejadian tersebut membuat saya kembali berpikir bahwa pendidikan anak sebenarnya bukan hanya tentang bagaimana membuat mereka sukses.
Kita juga perlu mengajarkan mereka bagaimana hidup bersama orang lain.
Ajarkan anak bahwa mereka memiliki hak, tetapi orang lain juga memiliki hak.
Ajarkan mereka untuk berani menggunakan fasilitas umum, tetapi juga memahami bahwa fasilitas tersebut digunakan bersama.
Ajarkan mereka untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, tetapi bukan dengan mengabaikan keberadaan orang lain.
Dan yang paling penting, berikan contoh melalui perilaku kita sendiri.
Karena sebelum anak belajar dari nasihat orang tua, mereka lebih dulu belajar dari apa yang mereka lihat.
Mengajarkan anak menghargai orang lain bukan berarti membuat mereka lemah atau selalu mengalah. Justru itu adalah bekal agar mereka tumbuh menjadi manusia yang tahu batas, tahu cara bersikap, dan memahami bahwa hidup bukan hanya tentang dirinya sendiri.
Semoga kita sebagai orang tua tidak hanya sibuk mempersiapkan anak agar menjadi orang sukses, tetapi juga mempersiapkan mereka agar menjadi orang yang baik.
